BHARABAS MEDIA, PEKANBARU – PT Pegadaian (Persero) Kantor Wilayah II Pekanbaru terus memperkuat komitmen terhadap pengelolaan lingkungan berkelanjutan. Salah satunya melalui konsolidasi Bank Sampah FORSEPSI (Forum Sahabat Emas Peduli Sampah Indonesia) yang digelar pada 4–5 November 2026 di Cititel Hotel Pekanbaru.
Kegiatan ini diikuti 20 Bank Sampah Induk binaan Pegadaian yang berasal dari tiga provinsi, yakni Riau, Sumatera Barat, dan Kepulauan Riau. Konsolidasi tersebut menjadi momentum untuk memperkuat koordinasi, meningkatkan kapasitas pengelola, sekaligus memperluas jejaring kemitraan dengan pemerintah daerah dan mitra offtaker.
Lebih dari sekadar pertemuan antarpengelola, kegiatan ini diarahkan untuk membangun ekosistem pengelolaan sampah yang produktif. Sampah tidak lagi dipandang sebagai persoalan lingkungan semata, tetapi juga sebagai sumber daya yang memiliki nilai ekonomi apabila dikelola secara tepat.
Kegiatan hari pertama secara resmi dibuka oleh Pemimpin Wilayah PT Pegadaian (Persero) Kantor Wilayah II Pekanbaru yang diwakili Deputi Bisnis, Satriya Bratawijaya.
Dalam sambutannya, Satriya menegaskan bahwa persoalan sampah perlu dilihat dari perspektif yang lebih luas. Di balik tantangan lingkungan, terdapat peluang ekonomi yang dapat memberikan nilai tambah dan manfaat nyata bagi masyarakat.
"Kita semua memahami bahwa persoalan sampah bukan hanya persoalan kebersihan lingkungan. Lebih dari itu, sampah merupakan tantangan sekaligus peluang ekonomi yang apabila dikelola dengan baik, dapat memberikan nilai tambah dan manfaat nyata bagi masyarakat. Sampah yang selama ini sering dianggap sebagai sesuatu yang tidak bernilai, sesungguhnya memiliki potensi ekonomi apabila dikelola melalui proses pemilahan, pengumpulan, pengolahan, hingga pemasaran yang tepat," ujarnya.
Menurutnya, Bank Sampah memiliki posisi strategis dalam mendorong perubahan perilaku masyarakat sekaligus membangun fondasi ekonomi sirkular.
"Di sinilah peran strategis Bank Sampah. Bank Sampah bukan hanya menjadi tempat masyarakat mengumpulkan sampah, tetapi juga menjadi pusat edukasi lingkungan, penggerak ekonomi masyarakat, serta bagian penting dalam membangun ekosistem ekonomi sirkular. Melalui Bank Sampah, kita mendorong perubahan pola pikir masyarakat, dari budaya membuang menjadi budaya memilah, dari sesuatu yang tidak bernilai menjadi sumber pendapatan, dan dari pola ekonomi linear menjadi ekonomi sirkular yang lebih berkelanjutan," lanjut Satriya.
Ia berharap, melalui penguatan kelembagaan dan kemitraan, Bank Sampah dapat berkembang menjadi pusat edukasi lingkungan sekaligus penggerak kegiatan ekonomi produktif di tengah masyarakat.
Dukungan terhadap penguatan jaringan tersebut juga disampaikan Sekretaris Jenderal FORSEPSI, Apriliawati, yang turut hadir memberikan sambutan. Ia menyambut baik kolaborasi bersama Pegadaian sebagai langkah untuk memperkuat jaringan dan peran Bank Sampah dalam mewujudkan pengelolaan sampah yang lebih terintegrasi dan berkelanjutan.
Memasuki hari kedua, peserta mengikuti diskusi bersama Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Pekanbaru dengan menghadirkan Rima Septisia, S.T., M.T., selaku Pengendali Dampak Lingkungan.
Diskusi tersebut menjadi ruang berbagi pengetahuan mengenai pengelolaan lingkungan serta peran strategis Bank Sampah dalam mendukung kebijakan dan upaya pengurangan sampah di daerah.
Tidak hanya dari sisi regulasi dan pengelolaan lingkungan, peserta juga mendapatkan wawasan mengenai peluang pemanfaatan sampah melalui kemitraan dengan pihak offtaker. Materi ini disampaikan M. Rizky Ramadhan, Branch Manager Pecuniary PT Medan Bioenergi Nusantara.
Melalui sesi tersebut, peserta diajak memahami pentingnya membangun rantai pemanfaatan sampah yang terhubung dengan pasar. Kemitraan dengan offtaker diharapkan dapat membuka akses pemasaran hasil pengelolaan sampah sekaligus meningkatkan nilai ekonomis material yang dikumpulkan oleh Bank Sampah.
Dari total 20 Bank Sampah Induk yang berpartisipasi, sebanyak tiga berasal dari Provinsi Riau, enam dari Sumatera Barat, dan 11 dari Kepulauan Riau. Komposisi peserta lintas provinsi ini menjadi peluang untuk memperluas komunikasi, bertukar pengalaman, serta mengembangkan praktik pengelolaan sampah yang dapat diterapkan di masing-masing daerah.
Melalui konsolidasi ini, Pegadaian berharap terbangun sinergi yang semakin kuat antara Bank Sampah binaan, FORSEPSI, pemerintah daerah, dan mitra offtaker. Kolaborasi tersebut diharapkan tidak berhenti pada koordinasi, tetapi berkembang menjadi kerja nyata yang mampu memperkuat rantai ekonomi sirkular dan meningkatkan kemandirian Bank Sampah.
Inisiatif ini sekaligus menjadi bagian dari komitmen Pegadaian dalam menjalankan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) serta mendukung penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG).
Melalui program pemberdayaan masyarakat dan kepedulian terhadap lingkungan, Pegadaian terus berupaya menghadirkan manfaat yang tidak hanya berdampak pada kelestarian alam, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.
Pada akhirnya, penguatan ekosistem Bank Sampah bukan sekadar tentang bagaimana mengurangi timbunan sampah. Lebih jauh, ini merupakan upaya membangun kesadaran kolektif bahwa lingkungan yang bersih dan masyarakat yang berdaya dapat tumbuh beriringan melalui kolaborasi dan pengelolaan sumber daya secara berkelanjutan. (rls/pri)
Komentar Anda :