Menyemai Cahaya Belajar di Pelosok Riau: Ketika Anak Muda Memilih Menyalakan Harapan
BHARABAS MEDIA, PEKANBARU – Di tempat-tempat yang jauh dari hiruk-pikuk perkotaan, pendidikan terkadang harus berjuang lebih keras untuk menemukan jalannya. Ada sekolah yang berdiri dengan segala keterbatasan, ruang belajar yang belum sepenuhnya layak, serta anak-anak yang menyimpan cita-cita besar di tengah fasilitas yang serba terbatas.
Di sana, jarak bukan sekadar hitungan kilometer. Sungai, hutan, jalan yang sulit dilalui, bahkan ketiadaan aliran listrik menjadi bagian dari keseharian yang harus dihadapi untuk mendapatkan kesempatan belajar.
Namun, di balik keterbatasan itu, selalu ada harapan yang tumbuh. Harapan yang dirawat oleh guru-guru, masyarakat, dan sekelompok anak muda yang percaya bahwa pendidikan tidak boleh berhenti hanya karena seseorang dilahirkan jauh dari pusat kota.
Salah satu ikhtiar itu datang dari IYES Foundation melalui program unggulannya, IYES Mengajar. Sebuah gerakan kerelawanan yang tidak sekadar datang membawa buku dan mengajar di ruang kelas, tetapi berusaha menyemai perubahan melalui penguatan ekosistem pendidikan di pelosok Provinsi Riau.
Gerakan yang dicetuskan pemuda asal Pekanbaru, Hari Novar, ini tumbuh dari sebuah kesadaran sederhana: anak-anak di pelosok memiliki hak yang sama untuk bermimpi dan memperoleh pendidikan yang layak.
Bagi Hari, persoalan pendidikan di daerah terpencil tidak cukup dijawab dengan kehadiran relawan dalam waktu singkat. Ada persoalan yang jauh lebih mendasar, mulai dari kondisi bangunan sekolah, kapasitas tenaga pendidik, pendampingan siswa, hingga keterlibatan masyarakat dalam menjaga keberlanjutan proses belajar.
"Anak-anak membutuhkan lingkungan belajar yang layak, guru yang memiliki kapasitas untuk mendampingi proses pembelajaran, serta masyarakat yang memiliki kepedulian dan kemampuan untuk menjaga keberlanjutan pendidikan," ujar Pendiri IYES Foundation, Hari Novar, Selasa (3/11/2026).
Dari pemikiran itulah IYES Mengajar terus bergerak. Bukan sekadar menghadirkan keramaian sesaat di sekolah-sekolah pelosok, melainkan berusaha meninggalkan sesuatu yang tetap hidup setelah para relawan kembali ke kota.
Menyusuri Sungai, Menemukan Arti Pengabdian
Perjalanan itu tidak selalu mudah. Ada medan yang harus ditaklukkan, ada jarak yang mesti ditempuh, dan ada kenyataan yang mengajarkan bahwa pendidikan di pelosok memiliki cerita yang berbeda-beda.
Salah satu pengalaman yang membekas terjadi pada 2017, ketika relawan IYES Mengajar angkatan ketiga menjangkau komunitas Suku Talang Mamak.
Kala itu, wilayah yang dituju belum teraliri listrik. Untuk sampai ke lokasi, para relawan harus menyusuri sungai menggunakan perahu selama kurang lebih empat jam.
Bayangkan perjalanan panjang di atas air, meninggalkan keramaian kota, menuju sebuah kawasan tempat anak-anak menunggu kesempatan belajar. Sungai menjadi jalan penghubung, sementara perahu menjadi kendaraan yang membawa semangat para relawan menembus keterbatasan geografis.
Di tempat seperti itulah makna pendidikan terasa lebih dalam. Sebab, belajar bukan hanya perkara membuka buku atau menuliskan huruf di papan tulis. Ada perjuangan untuk menghadirkan kesempatan, mendekatkan pengetahuan, dan meyakinkan anak-anak bahwa masa depan mereka tidak harus dibatasi oleh keadaan hari ini.
"Pengalaman di lapangan menjadi pengingat bahwa setiap wilayah memiliki tantangan pendidikan yang berbeda. Karena itu, pendekatan program tidak bisa diseragamkan, melainkan perlu memahami kondisi geografis, sosial, dan kebutuhan masyarakat setempat," tutur Hari.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu potret perjalanan IYES Mengajar. Sebuah perjalanan yang mengajarkan bahwa pengabdian tidak selalu membutuhkan panggung besar.
Terkadang, ia justru menemukan maknanya di ruang-ruang kelas sederhana, di tepian sungai, dan di tengah masyarakat yang selama ini berjuang dengan keterbatasannya sendiri.
Sepuluh Tahun Menjaga Nyala, Ribuan Penerima Manfaat
Sejak memulai langkah perdana pada 2015, IYES Mengajar terus merawat semangat kerelawanan. Satu demi satu angkatan dilalui, dengan membawa energi anak muda yang ingin memberikan sesuatu bagi masyarakat.
Dalam rentang 2015–2025, program ini telah menyelenggarakan sepuluh angkatan kegiatan. Sebanyak 167 relawan terlibat dan sekitar 63 mitra turut mengambil bagian dalam perjalanan tersebut.
Jangkauannya pun semakin luas. Tercatat sembilan sekolah dasar dan satu sekolah menengah atas di lima kabupaten telah menjadi bagian dari program ini. Secara keseluruhan, sekitar 3.100 orang telah menerima manfaat, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Angka-angka itu tentu bukan sekadar deretan statistik. Di baliknya terdapat banyak perjumpaan, cerita, pengalaman, dan kesempatan yang mungkin sebelumnya sulit dijangkau oleh anak-anak di daerah terpencil.
Ada tangan-tangan yang membantu memperbaiki fasilitas sekolah. Ada relawan yang berbagi pengetahuan. Ada guru yang memperoleh ruang penguatan kapasitas. Ada pula masyarakat yang mulai mengambil bagian lebih besar dalam menjaga lingkungan pendidikan mereka.
"Dalam kurun waktu tersebut, program ini telah melaksanakan sepuluh angkatan kegiatan pada periode 2015–2025 dengan melibatkan sekitar 167 relawan dan berkolaborasi dengan sekitar 63 mitra," ungkap Hari.
Baginya, perjalanan satu dekade itu menunjukkan bahwa semangat anak muda dapat berkembang menjadi gerakan sosial yang lebih luas.
"Perjalanan ini memperlihatkan bahwa gerakan kerelawanan anak muda dapat berkembang menjadi upaya kolaboratif yang lebih luas. Tidak hanya melibatkan relawan, tetapi juga guru, sekolah, masyarakat, pemerintah, dan berbagai mitra yang memiliki perhatian terhadap masa depan pendidikan," katanya.
Di sinilah IYES Mengajar berusaha menempatkan dirinya. Bukan sebagai pihak yang datang untuk menggantikan peran masyarakat, melainkan menjadi bagian dari kekuatan bersama yang saling menguatkan.
Pendidikan Bukan Pekerjaan Satu Pihak
Menyadari bahwa perubahan tidak mungkin berjalan sendiri, IYES Foundation membangun jejaring kemitraan dengan berbagai pihak, termasuk Pemerintah Provinsi Riau melalui Bappeda dan Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik (Diskominfotik) Riau.
Kolaborasi ini menjadi bagian dari upaya menyelaraskan gerakan kepemudaan dengan agenda pembangunan daerah. Sebab, persoalan pendidikan di pelosok tidak cukup diselesaikan melalui semangat sukarela semata. Dibutuhkan dukungan kebijakan, koordinasi, sumber daya, dan keterlibatan berbagai unsur.
Bagi IYES Foundation, pemerintah, dunia usaha, akademisi, organisasi masyarakat sipil, sekolah, serta warga lokal memiliki ruang pengabdian masing-masing.
"Keterlibatan pemerintah menjadi bagian penting dalam memperkuat sinergi, membuka ruang koordinasi, serta mendorong agar inisiatif kepemudaan dan gerakan pendidikan dapat terhubung dengan agenda pembangunan daerah," jelas Hari.
Ia meyakini, keberlanjutan pendidikan membutuhkan kepedulian yang tidak berhenti ketika sebuah kegiatan selesai dilaksanakan.
"Pendidikan bukan hanya tanggung jawab sekolah atau satu organisasi, melainkan tanggung jawab bersama. Organisasi masyarakat sipil, pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat memiliki peran yang saling melengkapi," tambahnya.
Pandangan itu sekaligus menegaskan bahwa membangun pendidikan bukan semata-mata menghadirkan orang-orang pintar ke ruang kelas. Lebih dari itu, membangun pendidikan berarti menumbuhkan ekosistem yang memungkinkan pengetahuan terus berkembang, guru semakin berdaya, anak-anak semakin percaya diri, dan masyarakat memiliki kepedulian terhadap masa depan generasinya.
Menuju Concong Dalam, Merawat Mimpi dari Pesisir
Perjalanan IYES Mengajar belum berhenti. Setelah sepuluh angkatan menapaki berbagai wilayah di Riau, gerakan ini bersiap melanjutkan langkah melalui angkatan ke-11.
Kali ini, Desa Concong Dalam, Kabupaten Indragiri Hilir, menjadi tujuan berikutnya. Kegiatan dijadwalkan berlangsung pada 8–15 November 2026.
Di kawasan pesisir tersebut, para relawan kembali akan membawa semangat yang sama: mendekatkan kesempatan belajar, memperkuat kapasitas pendidikan, dan menumbuhkan kepedulian bersama.
Setiap wilayah tentu memiliki cerita dan tantangannya sendiri. Namun, satu hal yang tidak berubah adalah hak anak-anak untuk memperoleh pendidikan yang lebih baik.
Mungkin mereka tumbuh jauh dari gedung-gedung sekolah megah. Mungkin ruang belajar mereka belum sempurna. Mungkin perjalanan menuju sekolah masih harus melewati jalan panjang dan keadaan alam yang tidak selalu bersahabat.
Tetapi, cita-cita tidak mengenal batas geografis. Anak-anak di tepian pesisir, di balik rimbunnya hutan, maupun di kampung-kampung yang jauh dari pusat pemerintahan, memiliki hak yang sama untuk membayangkan masa depan.
Di tengah kenyataan itulah gerakan seperti IYES Mengajar menemukan arti kehadirannya. Sebuah ikhtiar yang berangkat dari kepedulian, tumbuh melalui kerelawanan, dan berusaha bertahan dengan kekuatan kolaborasi.
Barangkali, perubahan besar memang tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Ia bisa berawal dari seorang anak muda yang memilih peduli. Dari beberapa relawan yang bersedia menempuh perjalanan panjang. Dari sebuah ruang kelas yang diperbaiki. Dari seorang guru yang semakin kuat mendampingi murid-muridnya. Atau dari seorang anak yang kembali berani mengangkat tangan dan menyebutkan cita-citanya.
Sebab, pendidikan pada akhirnya bukan hanya tentang seberapa banyak pengetahuan yang diberikan hari ini, melainkan tentang seberapa besar harapan yang berhasil ditumbuhkan untuk hari esok.
Dan selama masih ada anak-anak yang ingin belajar, selama masih ada guru yang setia mengajar, serta selama masih ada anak muda yang bersedia turun tangan, cahaya itu tidak akan padam.
Di pelosok Riau, IYES Mengajar sedang merawat cahaya itu. Menyemainya hari ini, agar kelak tumbuh menjadi masa depan yang lebih terang.
Komentar Anda :