BHARABAS MEDIA, PEKANBARU - Generasi muda Indonesia dituntut tidak hanya memiliki kemampuan dan prestasi, tetapi juga karakter yang kuat dalam menghadapi tantangan zaman. Patriotisme, kegigihan dan empati dinilai menjadi tiga nilai penting yang harus tumbuh dalam diri generasi penerus bangsa.
Sekretaris Daerah (Sekda) Riau Syahrial Abdi mengatakan, mencintai Indonesia tidak cukup diwujudkan melalui ucapan atau simbol semata. Kecintaan terhadap bangsa harus diterjemahkan dalam bentuk pengabdian, kerja keras serta tindakan nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
"Patriotik memiliki makna mencintai Indonesia bukan hanya dengan kata-kata tetapi dengan pengabdian dan tindakan nyata. Gigih, sesuatu yang tidak menyerah ketika menghadapi kesulitan, tidak runtuh ketika mengalami kegagalan dan tidak berhenti berjuang sebelum memberikan yang terbaik bagi bangsa," kata Sekda Syahrial Abdi di Halaman Gubernur Riau, Rabu (28/10/2026).
Dijelaskan, karakter generasi muda juga harus dilengkapi dengan empati. Keberhasilan pribadi tidak boleh membuat seseorang kehilangan kepedulian terhadap kondisi lingkungan maupun kesulitan yang dihadapi masyarakat di sekitarnya.
"Sedangkan empati, yang tidak hanya memikirkan keberhasilan dirinya sendiri. Tetapi juga merasakan kesulitan saudaranya, yang tidak berpaling ketika melihat rakyatnya membutuhkan pertolongan," jelasnya.
Ia menilai ketiga nilai tersebut memiliki hubungan yang tidak dapat dipisahkan dalam membangun bangsa. Patriotisme membutuhkan kepedulian, sementara kegigihan harus berjalan bersama dengan hati nurani agar perjuangan tidak kehilangan arah.
"Sebab patriotisme tanpa kepedulian akan kehilangan maknanya. Kegigihan tanpa nurani akan kehilangan arahnya dan kemajuan tanpa kemanusiaan bukanlah kemajuan yang sesungguhnya," tegasnya.
Diungkapkan, generasi muda untuk berani memiliki cita-cita besar sekaligus membangun kemampuan untuk mewujudkannya. Namun, pencapaian dan kekuatan yang dimiliki tidak boleh membuat generasi muda kehilangan kepekaan terhadap orang lain.
"Anak-anakku para pemuda Indonesia, bermimpilah setinggi langit, bekerjalah sekeras mungkin, jadilah manusia yang kuat. Tetapi jangan kehilangan kelembutan hati," ungkapnya.
Ia juga mendorong lahirnya generasi yang memiliki keberanian untuk mengambil kepemimpinan, tetapi tetap memahami bahwa kepemimpinan pada hakikatnya merupakan bentuk pelayanan. Menurutnya, pemimpin masa depan harus mampu berdiri teguh memperjuangkan kepentingan bangsa sekaligus hadir ketika masyarakat membutuhkan.
"Jadilah generasi yang berani memimpin tetapi juga bersedia melayani. Generasi yang mampu berdiri tegak untuk bangsanya sekaligus mengulurkan tangan kepada sesamanya," imbaunya.
Diterangkan, ilmu pengetahuan, karya dan pengorbanan yang diberikan generasi muda harus diarahkan menjadi kontribusi bagi Indonesia. Setiap kemampuan yang dimiliki dapat menjadi bagian dari upaya membangun bangsa apabila digunakan dengan tanggung jawab dan semangat pengabdian.
"Jadikanlah setiap ilmu, setiap karya, dan setiap pengorbanan sebagai bukti cinta kita kepada Indonesia. Dengan mengucapkan bismillahirrahmanirrahim, saya ucapkan selamat Hari Sumpah Pemuda ke-98 tahun 2026," terangnya.
Momentum Sumpah Pemuda, lanjut Syahrial, harus menjadi pengingat bahwa masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh perkembangan teknologi, pertumbuhan ekonomi maupun pembangunan fisik. Lebih jauh, masa depan Indonesia sangat bergantung pada kualitas karakter manusia yang akan meneruskan estafet pembangunan.
"Mari kita membangun generasi yang patriotik dalam pengabdian, gigih dalam perjuangan dan berempati dalam kemanusiaan. Sebab masa depan bangsa bukan hanya sesuatu yang akan kita temui dan hadapi. Masa depan adalah sesuatu yang sedang kita bangun bersama sejak hari ini." pungkasnya. (rls/pri)
Komentar Anda :