Pertamina Hulu Energi Dorong Percepatan Ekosistem Natural Hydrogen untuk Mendukung Ketahanan Energi Indonesia
Jumat, 14-08-2026 - 15:57:10 WIB

TERKAIT:
   
 

BHARABAS MEDIA, YOGYAKARTA — PT Pertamina Hulu Energi (PHE) sebagai Subholding Upstream Pertamina mendorong percepatan pengembangan natural hydrogen di Indonesia sebagai salah satu sumber energi masa depan untuk mendukung ketahanan dan kemandirian energi nasional. Upaya tersebut diwujudkan melalui Focus Group Discussion (FGD) dan Kick-Off Natural Hydrogen Taskforce yang mempertemukan pemangku kepentingan dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Pertamina, perguruan tinggi, BRIN, Lemigas, peneliti, serta berbagai pihak terkait.


Mengusung tema “Accelerating Natural Hydrogen Ecosystem from Scientific Evidence to Energy Security”, kegiatan yang berlangsung selama dua hari, Rabu-Kamis (12-13 Agustus 2026) di Yogyakarta ini menjadi langkah awal untuk membangun ekosistem natural hydrogen nasional yang mencakup penguatan scientific evidence, teknologi, regulasi, kelembagaan, eksplorasi, hingga kesiapan menuju pengembangan komersial.


Direktur Eksplorasi PHE Asep Samsul Arifin mengatakan bahwa PHE bersama Kementerian ESDM, perguruan tinggi, Lemigas, dan sejumlah peneliti telah melakukan studi regional dalam dua tahun terakhir untuk mengidentifikasi indikasi dan potensi natural hydrogen di Indonesia. Sejumlah wilayah, antara lain Ampana di Sulawesi Tengah, menjadi bagian dari kajian tersebut.


Menurut Asep, indikasi keluarnya gas atau api secara alami di sejumlah wilayah Indonesia menjadi fenomena geologi yang menarik untuk dikaji lebih lanjut. Tahap berikutnya adalah memperkuat scientific evidence melalui kegiatan eksplorasi yang terstruktur sehingga potensi sumber daya dapat dihitung secara akurat dan dikembangkan secara bertahap.


“Sebetulnya hidrogen itu bukan sesuatu yang asing bagi kita. Selama ini hidrogen banyak kita kenal dalam bentuk yang terikat dengan karbon menjadi hidrokarbon. Kedepan, kita melihat peluang untuk menemukan akumulasi dan memanfaatkan hidrogen yang terbentuk secara alami di bawah permukaan bumi,” ujar Asep.


Asep menambahkan bahwa percepatan pengembangan natural hydrogen membutuhkan kepastian regulasi dan kerangka kelembagaan yang memungkinkan kegiatan eksplorasi, produksi, pengembangan infrastruktur, hingga pemanfaatan dan pemasaran dapat dilakukan secara terintegrasi.


“Dari scientific evidence, langkah berikutnya adalah bagaimana kita dapat melakukan eksplorasi dan produksi, kemudian masuk ke market. Untuk itu dibutuhkan kerangka regulasi dan perizinan yang jelas karena sumber daya ini merupakan kekayaan negara dan pengelolaannya harus berada dalam kerangka yang ditetapkan oleh negara,” jelas Asep.


Pandangan tersebut sejalan dengan Prof. Stella Christie, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, yang dalam Keynote Speech menyampaikan bahwa natural hydrogen memiliki karakteristik yang menjadikannya menarik sebagai sumber energi masa depan. Natural hydrogen tersedia secara alami di bawah permukaan bumi dan berpotensi menjadi sumber energi yang ramah lingkungan serta memiliki keekonomian yang menarik.


Menurut Stella, Indonesia memiliki potensi natural hydrogen yang sangat besar, sementara perkembangan natural hydrogen secara global saat ini sebagian besar masih berada pada tahap riset dan pengembangan. Kondisi tersebut membuka peluang bagi Indonesia untuk tidak hanya mengikuti perkembangan global, tetapi juga menjadi salah satu pionir dalam pengembangan natural hydrogen di dunia.


“Indonesia memiliki peluang yang sangat besar untuk menjadi bagian dari perkembangan awal natural hydrogen secara global. Dengan potensi sumber daya yang kita miliki dan perkembangan ilmu pengetahuan yang terus berjalan, Indonesia memiliki kesempatan untuk membangun kapasitas nasional sejak sekarang,” ujar Stella.


Sejalan dengan peluang tersebut, Komisaris PHE Nanang Untung dalam Keynote Speech menekankan pentingnya Indonesia segera membangun ekosistem pengembangan natural hydrogen secara terarah, mulai dari aspek ilmiah, teknologi, regulasi, hingga operator pengembangan.


Nanang menjelaskan bahwa secara fundamental, natural hydrogen memiliki karakteristik teknis dan core capabilities yang sangat dekat dengan industri minyak dan gas bumi. Kegiatan seperti subsurface evaluation, geological and geophysical studies, resource assessment, drilling, well testing, hingga produksi dan pengelolaan fasilitas merupakan kompetensi yang telah lama berkembang dalam industri hulu migas.


“Kalau kita lihat dari sisi nature dan DNA-nya, natural hydrogen memiliki banyak kesamaan fundamental dengan migas, terutama dari sisi subsurface, eksplorasi, pengeboran, produksi, dan pengelolaan sumber daya. Karena itu, pengalaman dan kapabilitas yang telah dibangun dalam industri hulu migas menjadi modal yang sangat relevan untuk mengembangkan natural hydrogen,” ujar Nanang.


Lebih lanjut, Nanang menyampaikan bahwa perkembangan regulasi di sejumlah negara menunjukkan bahwa natural hydrogen mulai diposisikan dalam kerangka regulasi yang berdekatan dengan sumber daya gas alam dan industri migas, khususnya dalam aspek eksplorasi, perizinan, pengelolaan sumber daya, serta pembangunan infrastruktur.


Dalam konteks Indonesia, Nanang menilai PHE memiliki posisi yang kuat untuk mengambil peran sebagai National Lead Operator dalam pengembangan natural hydrogen, dengan mempertimbangkan pengalaman dan kompetensi teknis PHE dalam pengelolaan sumber daya bawah permukaan serta dukungan ekosistem Pertamina yang mencakup teknologi, engineering, drilling, services, infrastructure, hingga commercialization.


“Indonesia membutuhkan lead operator yang memiliki kemampuan teknis sekaligus ekosistem yang kuat untuk membawa natural hydrogen dari tahap scientific evidence menuju eksplorasi dan pengembangan. Dengan pengalaman PHE di industri hulu migas dan dukungan ekosistem Pertamina, kami melihat PHE memiliki kapabilitas yang sangat relevan untuk mengambil peran tersebut,” jelas Nanang.


Melalui Natural Hydrogen Taskforce, PHE bersama para pemangku kepentingan mendorong terbentuknya langkah konkret untuk mempercepat pengembangan natural hydrogen nasional. Taskforce diharapkan menjadi wadah kolaborasi lintas sektor untuk menyelaraskan agenda riset, pemetaan potensi, pengembangan teknologi, penyusunan regulasi dan tata kelola, serta persiapan kegiatan eksplorasi.


PHE siap mengambil peran sebagai National Lead Operator dalam pengembangan natural hydrogen Indonesia dengan terus memperkuat kapabilitas dan melakukan riset untuk memahami potensi sumber daya, teknologi eksplorasi, serta pengembangannya secara komersial. Langkah tersebut merupakan bagian dari komitmen PHE untuk mempercepat transformasi scientific evidence menjadi sumber energi yang dapat dikembangkan dan dimanfaatkan bagi kepentingan nasional. (rls/pri) 




 
Berita Lainnya :
  • Pertamina Hulu Energi Dorong Percepatan Ekosistem Natural Hydrogen untuk Mendukung Ketahanan Energi Indonesia
  •  
    Komentar Anda :

     
    + Indeks Berita +
    01 Antrean BBM Jadi Sorotan, Pemprov Riau Minta Pertamina Pastikan Pasokan Tetap Aman
    02 Lokal Jadi Vokal! Brownies Sorgum UMKM Binaan Kilang Dumai Ludes di SMEXPO Pekanbaru
    03 Pertamina Patra Niaga Kilang Dumai Bagikan Masker Gratis Untuk Masyarakat
    04 Pemprov Riau Buka 5 Posko Layanan Kesehatan di Kota Pekanbaru
    05 BRK Syariah Terima Kunjungan Kerja Pansus II DPRD Kabupaten Kotabaru
    06 Kualitas Udara Di Pekanbaru Memburuk, Diskes Riau Bagikan 5.000 Masker di Lima Titik Pekanbaru
    07 Hadir untuk Melayani, PGN Perkuat Service Excellence bagi Pelanggan Breadtop
    08 Lion Air JT 292 Tujuan Pekanbaru RTB ke Bandara Soekarno-Hatta, Jarak Pandang Hanya 600 Meter
    09 Pertamina Patra Niaga Kilang Dumai Jaga Keandalan Operasi Lewat Optimalisasi PLTS 3,77 MWp
    10 BRK Syariah dan Kemenhaj Hadirkan Safari Haji dan Coaching Perhajian di Siak
    11 Komisi VI DPR RI Dukung PHE Optimalkan Produksi Migas untuk Perkuat Ketahanan Energi
    12 Salurkan Rp 240 Milyar lebih Tanpa Ada Catatan Pembiayaan Bermasalah, Kinerja Keuangan BRK Syariah Cabang Jakarta dinilai Positif
    13 Disnakertrans Riau Buka Pelatihan Vokasi Nasional Batch 6, Ini Jadwal dan Cara Daftarnya
    14 Neraca Perdagangan Riau Surplus US$12,37 Miliar hingga Agustus 2026
    15 BRK Syariah Hadirkan Pembiayaan Usaha Mikro Subsidi Margin 0 Persen untuk Pelaku UMKM Natuna
    16 Difasilitasi KPwBI Riau, Setdaprov Saksikan Mou Dan Transaksi Konkret Perdana KAD TPID Riau Dengan TPID Sumatera Utara
    17 30 Dokter Muda dari Seluruh Indonesia Resmi Mengabdi di Riau, Plt Gubernur SF Hariyanto Titip Pesan Humanis
    18 Pertamina Patra Niaga Kilang Dumai Sabet Penghargaan Platinum di Ajang ISDA 2026
    19 RUPSLB BRK Syariah Tetapkan Calon Pengurus Bank, Selanjutnya Diajukan ke OJK
    20 8 Tahun Mangkrak, Pemprov Riau Dorong Penyelesaian Jembatan Rumbio
    21 Dengar Aspirasi Rumbio, Pemprov Riau Gandeng Kampar Cari Jalan Keluar Jembatan Mangkrak
    22 Dukung Peningkatan Cadangan Migas Nasional, PHE Lepas Pantai Bunyu Sosialisasikan Rencana Eksplorasi di Kalimantan Utara
     
     
    Galeri Foto | Advertorial | Indeks Berita
    Redaksi | Disclaimer | Pedoman Media Siber | Tentang Kami | Info Iklan
    © Buletin Satu - News information About Riau