Yang Mati Bukan Radionya, Yang Mati Caranya (Sebuah Jawaban Atas Opini Radio Perlahan Jadi Kenangan)
Yang Mati Bukan Radionya, Yang Mati Caranya (Sebuah Jawaban Atas Opini Radio Perlahan Jadi Kenangan)
Ferdy Arwandy - Praktisi Penyiaran
BHARABAS MEDIA, PEKANBARU -- Kalau kita bicara penyiaran, tentu tak lepas dari radio.
Tapi radio yang kita bicarakan sekarang bukan lagi radio yang itu.
Dulu, radio adalah kotak di sudut rumah. Antenanya tinggi. Gelombangnya terbatas. Jangkauannya cuma 20 kilometer.
Di sana orang mendengarkan musik, menyampaikan pesan, berkirim salam, bahkan menunggu nama disebut penyiar. Ada hubungan emosional. Itu benar.
Sekarang? Kotak itu memang sudah jarang. Tower FM memang banyak yang sepi.
Tapi apakah suaranya ikut mati?
Tidak.
Radio tidak mati. Radio pindah rumah.
Dia pindah dari FM/AM ke YouTube Live.
Dia pindah dari studio ber-AC ke HP Android di dashboard mobil.
Dia pindah dari "menunggu lagu diputar" ke "request langsung di kolom komentar".
Yang berubah bukan kebutuhan manusianya.
*Manusia tetap butuh ditemani. Butuh info tercepat saat banjir.* *Butuh musik yang sudah dikurasi. Butuh dengar suara manusia, bukan playlist robot.*
*Itu semua tugas radio. Dan tugas itu belum selesai.*
Ya, pilihan hiburan sekarang banyak. YouTube, TikTok, Podcast, Spotify.
Tapi coba tanya: mana yang bisa live 24 jam tanpa kamu pencet next?
Mana yang bisa ngumumin jalanan macet hari ini?
Mana yang penyiarnya bisa nyebut nama kamu sekarang juga?
Itu radio.
Sebagian orang menyayangkan matinya radio. Dan saya juga.
Tapi yang kita sayangkan bukan radionya. Yang kita sayangkan adalah kita yang terlalu lama bertahan di tower, sementara pendengar sudah pindah ke internet.
Dokter bilang: "Realistis sajalah. Injak bumi."
Saya setuju.
Realistisnya adalah: telepon kabel memang mati. Karena diganti HP.
Tapi radio tidak diganti. Radio hanya ganti baju.
Dari frekuensi, jadi konten. Dari gelombang, jadi streaming.
Jadi kalau memang sudah waktunya mengubur tower dan pemancar, mari kita kuburkan dengan baik. Terima kasih atas jasanya.
Tapi mikrofonnya jangan ikut dikubur.
Karena selama masih ada orang yang mau bicara, dan masih ada orang yang mau mendengar...
Radio tidak akan pernah mati. Dia hanya ganti nama.
Maaf! Tapi ini faktanya.
*Selamat Hari Radio Nasional!*
Komentar Anda :