Sebuah virus baru yakni virus flu babi G4 secara diam-diam telah menyebar ke para pekerja di peternakan babi di" />
 
 
Langkah Pencegahan Agar Virus Flu Babi G4 Tak Jadi Pandemi
Rabu, 01-07-2020 - 14:21:20 WIB
Ilustrasi: Para ahli dan peneliti studi terbaru mutasi H1N1 memperingatkan, virus flu babi G4 harus segera dikendalikan untuk menghindari terjadinya pandemi lain.
TERKAIT:
 
  • Langkah Pencegahan Agar Virus Flu Babi G4 Tak Jadi Pandemi
  •  

    BULETINSATU.com -- Sebuah virus baru yakni virus flu babi G4 secara diam-diam telah menyebar ke para pekerja di peternakan babi di China. Para ahli mewanti agar segera bergegas melakukan pelacakan penularan dan pengawasan ketat terhadap populasi babi di China demi mencegah virus ini menjadi pandemi.

    Virus flu babi G4 atau genotip 4 merupakan mutasi dari virus flu babi H1N1 genotip 1.

    Strain virus H1N1 sempat menyebabkan pandemi pada 2009 silam. Virus ini mudah menular dan menyebar ke seluruh dunia, saat itu mengakibatkan sekitar 285.000 orang meninggal.

    Sementara strain baru yang dikenal dengan virus flu babi G4 telah umum ada di peternakan babi China sejak 2016. Sebuah studi yang dipublikasikan secara online di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences mengungkapkan, sejak tahun itu virus bereplikasi secara efisien pada manusia melalui saluran udara.

    Hingga kini virus flu babi G4 telah menginfeksi beberapa orang tanpa mengakibatkan penyakit. Tetapi para ahli kesehatan khawatir kondisi ini tak lama lagi berubah menjadi sebuah peringatan akan ancaman pandemi.

    Itu sebab, para ahli dalam penelitian tersebut mengingatkan untuk segera melakukan pengawasan ketat.

    "Bahwa pengendalian penyebaran babi dan monitor populasi manusia dengan cermat harus segera dilaksanakan," tulis para peneliti.

    Penelitian didasarkan pada data pengawasan babi di 10 provinsi di China sejak 2011 hingga 2018. Dalam tiga tahun terakhir penelitian, para peneliti mengumpulkan 338 sampel darah pekerja dari 15 peternakan babi dan 230 orang merupakan mereka yang tinggal di dekat area.

    Studi menemukan 10,4 persen sampel pekerja dinyatakan terinfeksi dan demikian pula terhadap 4,4 persen sampel populasi umum.

    Kepala Departemen Virologi di Britain's Animal and Plant Health Agency yang juga salah satu ilmuwan peninjau kertas studi, Ian H. Brown mengatakan bahwa memprediksi risiko virus itu bukan seperti ilmu pasti. Tapi ia mengingatkan untuk cermat memperhatikan setiap perkembangan virus.

    "Mungkin akan ada perubahan lebih lanjut pada virus tersebut yang bisa jadi lebih agresif terhadap manusia--seperti yang terjadi pada SARS-CoV-2," kata dokter Brown mengingatkan.

    Sementara Li-Min Huang, Direktur Divisi Penyakit Menular Pediatrik di National Taiwan University Hospital mengatakan langkah penting berikutnya adalah mencari tahu sumber penularan pekerja peternakan yang terinfeksi. Misalnya, apakah pekerja terinfeksi di peternakan babi dan tertular dari manusia lain.

    Selain itu juga kemungkinan atau potensi penyebaran virus ke masing-masing keluarga mereka.

    "Ini studi yang sangat penting. Dan virusnya terlihat cukup berbahaya. Kita perlu khawatir tentang penyakit apapun yang berpotensi menular dari manusia ke manusia," jelas dokter Huang dikutip dari New York Times.

    Serupa telah diungkapkan para peneliti dalam tulisan. Peneliti mengingatkan pentingnya memperkuat pengawasan terhadap populasi babi di Cina.

    "Sangat mengkhawatirkan bahwa infeksi virus G4 pada manusia akan membuat virus beradaptasi lebih jauh terhadap manusia dan meningkatkan risiko pandemi," tulis para peneliti seperti dikutip Hindustan Times.

    Studi mengenai virus flu babi G4 tersebut merupakan kolaborasi antara lembaga-lembaga pemerintah di China termasuk Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan ilmuwan dari berbagai universitas di China dan University of Nottingham di Inggris. (CNI)



     
    Berita Lainnya :
  • Langkah Pencegahan Agar Virus Flu Babi G4 Tak Jadi Pandemi
  •  
    Komentar Anda :

     
    + Indeks Berita +
    01 3 Cara Agar CV Lamaran Kerja Menarik Perhatian HRD
    02 Aturan Main Drawing Perempat Final Liga Champions
    03 Jokowi Teken Perpres Baru soal Kartu Prakerja
    04 Titik Api Nihil, Beberapa Wilayah di Riau Masih Akan Hujan.
    05 Shin Tae Yong Pastikan Datang ke Indonesia
    06 Komisi V DPR RI Apresiasi Perjuangan Gubri Untuk Bangun Riau
    07 Antisipasi Karhutla, BPPT Sudah Dua Kali Lakukan Modifikasi Cuaca di Riau
    08 Evaluasi APBD 2020, Penanganan Covid-19 dan Kerjasama Pihak Ketiga Jadi Perhatian
    09 Hasil Swab Pegawai Negatif, Layanan Kantor Disdukcapil Kembali Buka
    10 Enam Perusahaan Global Pemungut PPN Produk Digital Resmi Ditunjuk
    11 Saran Dokter Ketika Virus Corona Bisa Menular Lewat Udara
    12 Gaji Marquez di MotoGP Bikin Iri Rival
    13 RS Patok Rapid Test Lebih Rp150 Ribu Akan Diberi Sanksi
    14 Hujan Dari Pagi Sebabkan Tidak Terpantaunya Titik Panas di Riau
    15 Permen Soal Corona Bukan Sebab Tae Yong Belum Tiba di Indonesia
    16 Kondisi Krisis, Jokowi Minta Menteri Kerja Lebih Keras
    17 Kadis PMD Provinsi Riau Jelaskan Tiga Tahapan Bantuan Langsung Tunai dari Dana Desa
    18 Kadiskes Riau: Kegiatan Rapid Tes Kimia Farma di Bandara SSK II Dihentikan Sementara
    19 Wali Kota Dorong DLHK Tertibkan Masalah Pungutan Sampah
    20 Penjabat Sekda Petakan Pemasukan Daerah saat Pandemi
    21 Mengenal Gejala Bubonic, Wabah yang Dihadapi China
    22 Milan vs Juventus: Ibrahimovic Lebih Hebat dari Ronaldo
     
     
    Galeri Foto | Advertorial | Indeks Berita
    Redaksi | Disclaimer | Pedoman Media Siber | Tentang Kami | Info Iklan
    © Buletin Satu - News information About Riau