Buletinsatu

Senjata Impor, Polri sebut SAGL Hanya Efek Kejut, TNI: Peluru SAGL Mematikan

Polri dan TNI berseberangan mengenai kemampuan senjata Stand-alone Grenade Launcher (SAGL) yang dibeli Brimob. Yang satu bilang hanya melumpuhkan, yang lain menilai itu mematikan.

Sejak kedatangannya di Bandara Cengkareng pada 29 September lalu, SAGL ini mengundang polemik. SAGL awalnya ditahan di kargo bandara karena belum ada izin dari Kepala Badan Intelijen Strategis.

Setelah sekian hari menjadi polemik, akhirnya digelar rapat di Kemenko Polhukam pada 6 Oktober lalu. Dalam rapat yang dihadiri Menko Polhukam Wiranto, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, Kapolri Jenderal Tito Karnavian, dan Kepala BIN Budi Gunawan, disepakati polemik mengenai senjata tersebut diakhiri. Namun syaratnya, untuk peluru tajam 'ditahan' di Mabes TNI.

Polri: Hanya untuk Efek Kejut

Kemudian Polri memberikan penjelasan mengenai profil senjata SAGL ini, terutama dalam penyebutan peluru tajam. Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto menyatakan amunisi tajam yang dimaksud tersebut hanya untuk melumpuhkan, berupa peluru tabur.

"Peluru tajam itu berbeda dengan peluru tabur. Seperti ini granat asap dengan ini granat gas air mata, juga berbeda walau bentuknya sama. Jadi amunisi yang digunakan SAGL ada tiga, yaitu asap, gas air mata, dan yang disebut tajam tadi, tajam itu hanya untuk mengejutkan dengan butiran kecil-kecil. Tidak untuk mematikan tapi untuk melumpuhkan. Sekali lagi, untuk melumpuhkan. Itu yang perlu dipahami," kata Setyo.

Setyo kemudian menjelaskan ulang fungsi peluru tabur jika ditembakkan dari senjata SAGL. Peluru itu untuk memberikan efek kejut.

"Kalau orang ada di belakang tembok atau di belakang rumput, atau bambu, ditembak dengan granat itu, dia akan keluar. Artinya dia terkejut dan setelah itu baru dilakukan penangkapan. Itu yang dimaksud dengan senjata kejut," jelas Setyo.

TNI: Peluru SAGL Mematikan

Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI Mayjen Wuryanto menyatakan peluru SAGL yang disebut peluru tajam tersebut memiliki fungsi mematikan. Wuryanto juga menyebut senjata dan amunisi itu memiliki kemampuan luar biasa.

"Di katalog sangat jelas dikatakan itu amunisi tajam. Mempunyai radius mematikan 9 meter dan jarak capai 400 meter," kata Wuryanto kepada wartawan di Taman Ismail Marzuki, Jl Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (10/10/2017).

Wuryanto menyebut amunisi yang jumlahnya 5.932 butir itu punya keistimewaan tersendiri. Amunisi yang mematikan ini sudah dibawa ke gudang Mabes TNI, Senin (9/10) malam.

"Setelah meledak pertama, kemudian meledak yang kedua, dan menimbulkan pecahan-pecahan dari tubuh granat itu berupa logam-logam kecil yang melukai ataupun mematikan. Kemudian granat ini pun bisa meledak sendiri tanpa benturan setelah 14-19 detik lepas dari laras. Jadi ini luar biasa," papar Wuryanto.

Terlepas dari perbedaan itu, TNI dan Polri telah bersepakat menghentikan polemik tersebut. Peluru tajam SAGL kini dititipkan di gudang Mabes TNI. Adapun Brimob hanya bisa membawa pulang amunisi untuk asap dan gas air mata. (buletinsatu/detik)

sumber:detikcom
loading...

Politik

[Politik][fbig1][#e74c3c]
Loading...

Nasional

[Nasional][fbig1][#e74c3c]

Ekonomi

[Ekonomi][fbig1][#e74c3c]

Kriminal

[Kriminal][fbig1][#e74c3c]

Hukum

[Hukum][fbig1][#e74c3c]

Internasional

[Internasional][fbig1][#e74c3c]
Diberdayakan oleh Blogger.