Buletinsatu

Melacak Jejak Misteri Keberadaan PT Mustika Dutamas, Pengimpor Pelontar Granat Brimob

Pada Sabtu (30/9) pagi, ramai kabar soal adanya 280 pelontar granat impor jenis Arsenal Stand Alone Grenade Launcher (SAGL) kaliber 40x46 mm dan 5.932 butir amunisi granat dari Bulgaria. Persenjataan itu tertahan di pabean Bandara Soekarno-Hatta. Tertahannya senjata itu, disebut-sebut lantaran Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI belum mengeluarkan rekomendasi.

Selain soal penahanan ratusan pucuk senjata itu, nama perusahaan yang mengimpor alat-alat itu juga menjadi tanda tanya besar. PT Mustika Dutamas, nama perusahaan yang mengimpor senjata-senjata tersebut, juga banyak dikaitkan dengan urusan proses lelang.

Atas ramainya kabar berantai itu, Mabes Polri pada Sabtu malam menggelar jumpa pers.
"Senjata adalah betul milik Polri dan adalah barang yang sah. Semuanya sudah sesuai dengan prosedur mulai dari perencanaan proses lelang kemudian proses berikutnya direview staf Irwasum (Inspektorat Pengawasan Umum Polri) dan BPKP (Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan)," kata Kadiv Humas Irjen Setyo Wasisto di Mabes Polri, Jakarta Selatan, didampingi Kepala Korps Brimob Irjen Murad Ismail.

Setyo mengatakan, Polri sudah mengajukan permintaan rekomendasi kepada TNI sebagai syarat impor senjata. Senjata masih berada di penyimpanan kargo bandara, jelas Setyo, bukan karena ada surat yang tidak lengkap.

"Prosedurnya memang demikian, barang masuk Indonesia harus dikarantina. Kemudian (baru -red) diproses BAIS (Badan Intelijen Strategis) TNI," sebut Setyo.

Informasi dari Polri dan berbagai sumber, lalu coba dikroscek kumparan ke lapangan. kumparan menyambangi kantor PT Mustika Dutamas, seperti yang tertera di laman situs pencarian Google.
Berdasarkan alamat yang tertera di Google, PT Mustika Dutamas beralamat di Jalan Gunung Sahari Raya Blok A Nomor 1, RT 10 RW 4, Gunung Sahari Utara, Sawah Besar, Jakarta Pusat. Namun setelah mengikuti petunjuk peta digital, alamat itu tak juga ditemukan.

Di sepanjang Jalan Gunung Sahari Raya, kumparan hanya menemui sebuah bangunan tingkat dua bertuliskan Jalan Gunung Sahari Raya No 1 Jakarta. Dari pantauan, tidak ada aktivitas yang terlihat dalam gedung itu. Identitas dari nama perusahaan gedung itu juga tak nampak.

kumparan lalu mencoba menyambangi pos satpam gedung berwarna putih kusam itu. Salah seorang penjaga yang enggan menyebut namanya menjelaskan, gedung itu memang sesuai dengan alamat yang dicari, namun bangunan yang tampak sepi itu bukanlah PT Mustika Dutamas yang dimaksud.
"Kalau ini, mah, PT Makmur, Mbak. Kalau Mustika saya enggak tahu. Belum pernah dengar," ujarnya, kepada kumparan, Minggu (1/9).

Sayangnya Pak Satpam itu juga tak mau merinci secara detail, PT Makmur yang ia sebut. Ia berdalih tak tahu-menahu tempat kerjanya itu bergerak di bidang apa.

Lantaran masih menyimpan teka-teki, kumparan lalu mencoba bertanya dengan seorang pedagang minuman ringan di dekat gedung itu. Wati, yang sehari-hari menjual makanan dan minuman ringan di dekat gedung sepi itu juga tak tahu PT Mustika Dutamas.

Wati yang sudah 10 tahun mangkal merasa asing dengan nama perusahaan itu. Dia tak pernah mengetahui nama perusahaan itu.

Saat kumparan mencocokkan alamat yang dituju dengan nama perusahaan itu, Wati menyebut, alamat itu masih jauh dari tempatnya dan PT Makmur berdiri. Jika merunut pada alamat yang tertera di Google, alamat PT itu berada di dekat sebuah diler motor yang berjarak sekira 1 kilometer dari sana.
"Ini kan emang sepanjang jalan namanya Jalan Gunung Sahari. Sampai Ancol juga namanya Jalan Gunung Sahari," jelasnya.

Berdasarkan keterangan Wati, kami langsung menuju diler motor yang ia maksud. Sesampainya di sana, lagi-lagi, kami tak menemukan PT Mustika Dutamas. Dealer motor itu sendiri beralamat di Jalan Gunung Sahari VIII.

Produksi Akrilik pengganti PT Mustika Duta Mas (Foto: Diah Harni/kumparan)
Dari keterangan satpam yang berjaga di diler itu, kami diarahkan untuk masuk ke dalam gang yang berada persis di sebelah diler. Menurut satpam itu, alamat yang kami tuju berada di dalam gang itu, meskipun ia sendiri juga tak tahu ada sebuah perusahaan bernama PT Mustika Dutamas yang berlokasi di sekitar tempat kerjanya.

Tanpa pikir panjang, kami lalu masuk ke dalam gang di Jalan Gunung Sahari VIII itu. Satu per satu bangunan pun kami susuri, untuk mencari di mana sebenarnya lokasi perusahaan pengimpor senjata Brimob itu. Namun, apa yang kami cari belum membuahkan hasil.

Beruntung, kumparan bertemu dengan Doni, salah satu driver ojek online yang sedang bersantai di depan rumahnya. Ketika d tanya perihal PT Mustika Dutamas, ia sempat mendengar nama perusahaan itu.

"Oh itu di sebelah diler tadi. Dulu itu namanya Mustika, tapi tahun lalu udah ganti jadi ruko akrilik," jelas Doni, driver ojek online yang sejak kecil sudah tinggal di daerah itu.

Doni menjelaskan, ia tak tahu, apakah PT Mustika Dutamas dengan PT Mustika yang ia maksud adalah perusahaan yang sama. Namun ia menjelaskan, PT Mustika sebelumnya memang bertempat di sana. Namun, tahun lalu, perusahaan itu pindah dan diganti dengan ruko akrilik, tempat produksi logo perusahaan.

Terkait profil dari PT Mustika itu, Doni juga sama sekali tak tahu. Menurut dia, perusahaan itu tak pernah ramai dengan aktivitas. Yang ia tahu, setiap harinya, ada seorang penjaga yang berjaga-jaga di tempat itu.

"Pokoknya enggak pernah ada mobil atau motor masuk. Ya sepi aja gitu. Makanya saya enggak tahu itu perusahaan apa," jelasnya.


Untuk mengetahui bagaimana kondisi tempat itu, kumparan lalu langsung kembali ke tempat diler motor tadi dan melihat ruko tempat bisnis akrilik yang tepat berada di sebelah diler itu.

Bangunan berwarna kuning itu memiliki tiga lantai. Pada bagian dindingnya, tertera tulisan nama perusahaan akrilik itu. Bangunan bernomor 33 itu sepi, mungkin juga karena hari libur.

Sarjito, salah seorang pedagang gorengan yang berjualan di sebelah bangunan itu menyebut, tempat produksi akrilik itu memang baru setahun berdiri. Sedangkan di tahun-tahun sebelumnya, ruko berlantai tiga itu tertutup dan minim aktivitas.

"Belum lama kok itu akriliknya. Baru setahun. Kalau sebelum itu nggak tahu ada apa, Neng. Sepi soalnya," tutur dia.

Hingga kini pencarian lokasi perusahaan itu masih nihil. Entah di mana lokasi perusahaan itu berada.
PT Mustika Dutamas sendiri pada 2008 disebut menjadi korporasi yang mengadakan 80 ribu paspor tanpa mekanisme lelang.

Dalam rapat dengar pendapat di DPR, Menteri Hukum dan HAM kala itu, Hamid Awaludin, mengatakan penunjukan langsung dilakukan untuk menjaga ketersediaan paspor.

Berdasarkan penelusuran di situs lpse.polri.go.id, perusahaan yang sama pernah pula menang lelang untuk pengadaan barang di Bareskrim. Pada 2012, PT Mustika Duta Mas memenangkan lelang pengadaan alat pengolah data sidik jari. Perusahaan ini menyingkirkan 18 peserta lelang lainnya.
Selain itu, di situs lpse.kemenkumham.go.id, korporasi ini juga pernah memenangkan lelang untuk barang di Direktorat Intelijen Keimigrasian. Hanya saja, tidak tertera keterangan waktu lelang proyek itu berlangsung. Informasi yang diberikan hanya PT Mustika Dutamas menyingkirkan 21 peserta lelang lain.

PT Mustika Dutamas lagi-lagi jadi berita setelah diketahui Brimob mengimpor senjata berat dari Bulgaria yang sekarang masih dikarantina di pabean Bandara Soekarno-Hatta.(buletinsatu.com/kumparan)
loading...

Politik

[Politik][fbig1][#e74c3c]
Loading...

Nasional

[Nasional][fbig1][#e74c3c]

Ekonomi

[Ekonomi][fbig1][#e74c3c]

Kriminal

[Kriminal][fbig1][#e74c3c]

Hukum

[Hukum][fbig1][#e74c3c]

Internasional

[Internasional][fbig1][#e74c3c]
Diberdayakan oleh Blogger.