Buletinsatu

 KPK: Koruptor Tidak Pancasilais, Said Didu: Yang melepas Koruptor Lebih Tidak Pancasilais

Pimpinan KPK Basaria Panjaitan angkat bicara tentang integrasi nilai Pancasila dengan semangat antikorupsi. Ia berpendapat jika korupsi tidak ada di Indonesia maka pendidikan dan kesehatan bagi rakyat seharusnya gratis.

"Kami tahu kemanusiaan yang adil dan beradab itu kalau sudah ada sekelompok, seorang tertentu korupsi, pasti tidak akan ini menimbulkan keadilan dan semua rakyat. Kita jadi miskin, jadi tidak bisa sekolah, jadi kesehatannya juga harus bayar," kata Wakil Ketua KPK Basaria Pandjaitan usai mengikuti upacara Hari Peringatan Kesaktian Pancasila di kantornya, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Senin (1/10/2017).

"Karena menurut penelitian, kalau korupsi tidak ada di Indonesia, bahkan kesehatan dan pendidikan itu tidak perlu bayar, gratis untuk seluruh penduduk kita," ujar Basaria saat menjelaskan masing-masing sila dalam mewujudkan antikorupsi.


Dalam sila pertama, dia menekankan tidak ada satu pun agama yang menghalalkan korupsi. Korupsi juga melanggar sila ketiga dan keempat. Rasuah disebutnya menimbulkan ketidak-kompakan.

"Ini bisa juga mengakibatkan keributan satu sama lain dan menimbulkan perpecahan. Korupsi itu real sangat-sangat berbahaya," tuturnya.

Terakhir, korupsi tidak bisa mencapai nilai keadilan sosial. Seorang koruptor berarti dia tidak Pancasilais.

"Jadi semua (sila) sebenarnya (antikorupsi), orang yang melakukan korupsi, berarti dia tidak Pancasilais. Sebenarnya kalau kita benar-benar memahami Pancasila itu, jadi Pancasila itu kalau benar-benar diterapkan dalam kehidupan kita, tidak akan melakukan korupsi," tegasnya seperti dilansir detik.com

Menanggapi pernyataan Pimpinan KPK Basaria Panjaitan Muhammad Said Didu Eks Stafsus Men ESDM 2014-2016 yang juga anggota DPR/MPR 1997-1999  menilai bahwa justru orang yang membebaskan koruptor karena kurang teliti atau kesengajaan atau faktor lain lebih tidak Pancasilais.

Banyak orang yang teriak-teriak pancasilais diluar sana untuk menutupi kebohongannya dan kebejatnya didepan publik.Mereka teriak-teriak seolah-olah pembela pancasila tapi dalam hati sebaliknya.

“Dan orang yg bebaskan koruptor krn kurang teliti atau kesengajaan atau faktor lain lbh tdk Pancasilais” tegas Said Didu melalui akun twitternya (02/10/2017)

Mereka teriak-teriak “Saya Pancasila, Saya Indonesia” tapi membela Koruptor ,melepaskan koruptor dengan berbagai alasan yang dibuat-buat.Seperti mencari niat baiklah, tidak ada niat jahatlah, inilah, itulah untuk pembenaran demi membela sang koruptor.Seperti yang terjadi pada kasus Mega Korupsi kasus Sumber Waras yang melibatkan mantan Gubernur DKI Basuki Cahya Purnama alias Ahok.

Hilangnya kasus Mega korupsi yang melibatkan Ahok ini karena KPK membuat alasan aneh yaitu mencari niat jahat.Dan dengan alasan tidak ditemukan niat jahat oleh KPK maka lenyaplah kasus Mega korupsi Sumber Waras demi menyelamatkan Ahok yang selalu mengaku bersih dari korupsi.Akhirnya hingga saat ini kasus Mega korupsi Sumber Waras menjadi misteri penegakan korupsi oleh KPK.(buletinsatu.com/detik)
loading...

Politik

[Politik][fbig1][#e74c3c]
Loading...

Nasional

[Nasional][fbig1][#e74c3c]

Ekonomi

[Ekonomi][fbig1][#e74c3c]

Kriminal

[Kriminal][fbig1][#e74c3c]

Hukum

[Hukum][fbig1][#e74c3c]

Internasional

[Internasional][fbig1][#e74c3c]
Diberdayakan oleh Blogger.