Buletinsatu

Bukan Muslim, Serangan Mematikan di Las Vegas Takut Disebut Aksi Teroris

Serangan brutal diLas Vegas membuat banyak pihak prihatin, tapi di sisi lain juga ada realitas yang juga memprihatinkan. Pengamat teroris dari CIIA Ustadz Harits Abu Ulya mempertanyakan soal obyektifitas pemberitaan oleh beragam media mainstream.

Kenapa media banyak yang kelu untuk melabeli serangan brutal di Las Vegas sebagai aksi teroris? Menurut dia serangan Las Vegas menjadi salah satu contoh tolak ukur level obyektifitas media dan banyak pihak terkait isu terorisme.

 “Biasanya pada kasus ecek-ecek “teror” begitu murah di obral kata “teroris”, kenapa pada serangan brutal di Las Vegas mereka menjadi pelit?,” tanyanya, Selasa (3/10).

Menurutnya publik makin sadar bahwa diksi “teroris” atau isu terorisme adalah etalase perang opini dan propaganda, yang terselebung didalamnya ada kepentingan politik global yang komplek yang tendensius.

Dan ada konvergensinya dengan kepentingan politik rezim lokal yang ikut memainkan isu warr on terrorism. Hal ini perlu disadari, faktor beragam kepentingan dibalik isu terorisme membuat banyak pihak sulit bersikap obyektif, jujur, adil dan proporsional dalam pemberitaan.

“Apakah kita seperti itu? Mari berkaca diri,” ungkapnya.

Bahkan adanya motif dalam penembakan massal di Las Vegas, Presiden AS Donald Trump, pada Senin (2/10) malam, mengatakan, insiden tersebut merupakan murni aksi kejahatan. Ia bahkan menghindari kata "terorisme".

Pembunuhan massal orang-orang tak berdosa, bahkan dalam skala Las Vegas, tidak secara otomatis memenuhi definisi terorisme yang berlaku umum. Terorisme membutuhkan motif politik, ideologis, atau religius.

Nanum pengamat teroris Martha Crenshaw mengatakan bahwa kata 'terorisme' juga sering kali digunakan sebagai senjata verbal, terutama untuk melabeli tersangka Muslim.

Mungkin jika pelakunya adalah seorang muslim maka dengan mudah akan dicap teroris untuk menyudutkan Islam,tetapi karena dia non muslim, Warna kulit putih jadi mereka tidak takut mencap teroris jelasnya.

"Labelnya sangat merendahkan dan memberikan begitu banyak tekanan jika pelakunya adalah muslim," kata Martha Crenshaw, pakar terorisme di Pusat Keamanan dan Kerjasama Internasional Stanford, dikutip New York Times.(buletinsatu.com/kn)
loading...

Politik

[Politik][fbig1][#e74c3c]
Loading...

Nasional

[Nasional][fbig1][#e74c3c]

Ekonomi

[Ekonomi][fbig1][#e74c3c]

Kriminal

[Kriminal][fbig1][#e74c3c]

Hukum

[Hukum][fbig1][#e74c3c]

Internasional

[Internasional][fbig1][#e74c3c]
Diberdayakan oleh Blogger.