Buletinsatu

Laskar Merah Putih: Jangan hanya karena Cina Bisnis di Indonesia, Komunis Seenaknya di sini

Laskar Merah Putih menentang keras setiap acara yang berbau komunis atau PKI. Dan menghimbau kepada masyarakat umum agar jangan membiarkan komunis/PKI kembali hadir di tengah-tengah lingkungan di Indonesia.

“Jangan biarkan, jangan biarkan komunis hadir di tengah-tengah masyarakat kita. Hanguskan. Kuburkan dalam-dalam. Ingatlah para orangtua kita, para kiai dan ustadz menjadi korban. Intimidasi dan pembunuhan di depan keluarga anak-anak para jendral. Itu nyata, saudara-saudaraku. Maka jangan katakan pemutarbalikkan fakta. PKI tetaplah PKI. Komunis tetaplah komunis,” kata salah satu orator, Lucky Sunahya, Sabtu (16/09/2017), di depan LBH Jakarta.

Menurut orator tersebut, Indonesia sudah tenang dan damai, sehingga tidak perlu lagi ada pembelaan atas nama sejarah. Apalagi jika menuding kebiadaban PKI/komunis tidak atau bukan sejarah yang pernah terjadi di Indonesia.

“Tidak ada lagi komunis di negeri pertiwi ini. kita sudah damai. Kita sudah tenang. Kita sudah aman. Jangan hanya karena tumbuh komunis, kita diadu domba. Kami setuju apabila kegiatan PKI dimonitor dan ditutup acara-acaranya, apapun yang terjadi, walaupun kita mati di tangan komunis,” orator itu kembali berseru.

Pemerintahan Joko Widodo juga diingatkan oleh Laskar Merah Putih untuk jeli terhadap adanya dugaan-dugaan kuat komunis/PKI kembali. Jokowi juga diminta mawas diri terhadap pergerakan yang ada, terlebih pergerakan itu mengatasanamakan bisnis dengan negeri komunis.

“Jangan sebutkan bahwa sejarah PKI itu tidak benar. Yang benar adalah komunis tetaplah komunis. Jangan hanya karena RRC atau Cina mendapat kesempatan membangun negeri ini, ….Jokowi agar kiranya melihat kalau bisnis tetaplah bisnis. Jangan biarkan ini (PKI/komunis) masuk seenaknya saja,” tutup Lucky mengingatkan.

Sebelum memang aka nada seminar di LBH Jakarta. Seminar itu kabarnya akan mengungkap sejarah tahun 1965/1966. Namun beberapa ormas menolak acara tersebut. Setidaknya ada puluhan hingga ratusan anggota ormas yang menentang seminar tersebut. (buletinsatu.com/arya/vois)

Posting Komentar

loading...

Politik

[Politik][fbig1][#e74c3c]
Loading...

Nasional

[Nasional][fbig1][#e74c3c]

Ekonomi

[Ekonomi][fbig1][#e74c3c]

Kriminal

[Kriminal][fbig1][#e74c3c]

Hukum

[Hukum][fbig1][#e74c3c]

Internasional

[Internasional][fbig1][#e74c3c]
Diberdayakan oleh Blogger.