Buletinsatu

Pelepasan Kereta Kencana Ki Jaga Raksa untuk dipinjam sementara ke Jakarta. Ritual khusus digelar pada pelepasan kereta kencana tersebut.


PURWAKARTA (BULETIN SATU) – Ada yang berbeda di Pendopo Pemkab Purwakarta, Kamis (11/8) pagi. Sejumlah orang menari diiringi lantunan gamelan dan ritual sesajen bertabur bebungaan beragam warna.
Red karpet (karpet merah) tergelar sepanjang tempat mengantornya Bupati Purwakarta. Para pegawai negeri berdiri berjajar di sepanjang tergelar karpet merah hingga pintu gerbang Pemkab Purwakarta.
Ada apa gerangan? Ya, Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi secara khusus menggelar ritual penurunan Kereta Kencana yang dinamai Ki Jaga Raksa untuk dilepas keluar kantornya dibawa ke Jakarta, yakni ke Istana Presiden untuk ikut upacara tradisi militer yang digagas Presiden Jokowi.
“Saya mengapresiasi Presiden Jokowi yang pada Hari Kemerdekaan RI tahun ini memadukan tradisi militer kekinian dan kerajaan. Ini sejarah baru,” ujarnya.
Kereta Kencana Ki Jaga Raksa miliknya itu, untuk sementara dipindah ke Jakarta, akan digunakan membawa replika bendara merah putih dari Monas menuju Istana Presiden.

Menurutnya, peminjaman kereta kencana tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Purwakarta. Pasalnya, kereta dari Solo yang telah menetap di Kantor Bupati sejak 2009 tersebut merupakan ikon Purwakarta yang menjadi cerminan refleksi sejarah kebudayaan di Purwakarta.
Dedi menilai, Presiden Jokowi telah berhasil memadukan unsur tradisi dan unsur kekinian dalam tatanan kenegeraan. Ini penting karena Indonesia memiliki tradisi kebudayaan yang kuat.
“Pak Jokowi memiliki intuisi kebudayaan yang luar biasa. Intuisi ini mulai muncul dalam tatanan kenegaraan. Saya kira ini bagus karena Indonesia ini kaya akan kebudayaan Nusantara. Nanti itu dalam upacara peringatan Hari Kemerdekaan, beliau ingin memadukan budaya militer kerajaan dan budaya militer kekinian,” jelasnya.
Dedi pun berencana akan membuat upacara peringatan Hari Kemerdekaan yang serupa. Karena menurut dia masih sangat jarang upacara bendera yang memadukan unsur militer tradisional dan unsur militer modern.
“Bukan tidak mungkin kita di Purwakarta melakukan hal yang sama seperti Pak Jokowi lakukan. Selama ini SOP upacara bendera selalu dinilai kaku dan membosankan. Kalau kita tambahkan ornamen tradisional tentu ini perubahan terhadap sejarah. Patut kita apresiasi tentunya,” pungkasnya. (*)

poskotanews.com

Posting Komentar

loading...

Politik

[Politik][fbig1][#e74c3c]
Loading...

Nasional

[Nasional][fbig1][#e74c3c]

Ekonomi

[Ekonomi][fbig1][#e74c3c]

Kriminal

[Kriminal][fbig1][#e74c3c]

Hukum

[Hukum][fbig1][#e74c3c]

Internasional

[Internasional][fbig1][#e74c3c]
Diberdayakan oleh Blogger.