Buletinsatu

Ketua Badan Penanggulangan Penistaan Agama (Bakorpa) Dewan Pakar ICMI Anton Tabah Digdoyo


BULETINSATU.COM, JAKARTA-- Sebagai negara ‎berpenduduk mayoritas Muslim, pemerintah pusat atau daerah di Indonesia dinilai wajar menyarankan tempat-tempat makan tutup selama bulan Ramadhan. Larangan tersebut sudah menjadi tradisi setiap negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia ini sehingga tidak perlu diperdebatkan.

"Sebagai negara Muslim terbesar di dunia, sudah berabad-abad jika Ramadhan tiba yang berprofesi kuliner selalu menutup restoran atau warung makannya," kata Ketua Badan Penanggulangan Penistaan Agama (Bakorpa) Dewan Pakar ICMI Anton Tabah Digdoyo‎, menanggapi ribut-ribut mengenai pedagang yang diboyong Satuan Polisi Pamong Praja di Banten, Ahad (12/6).

Menurut Anton yang juga wakil ketua Komisi Hukum MUI Pusat itu, jika ada yang buka, pemiliknya selalu menutup pintu dan jendela dengan tirai untuk menghormati umat Islam yang sedang berpuasa. Selama ini juga tidak pernah terjadi keributan. "Ini sudah berjalan berabad-abad penuh dengan harmoni. Kenapa di era Jokowi ini jadi ribut?" ujar Anton melalui pesan singkatnya yang diterimaRepublika.co.id, Senin (13/6).

Purnawirawan jenderal Polri‎ ini sangat menyayangkan dengan pernyataan seorang tokoh Muslim yang menyampaikan hormatilah orang yang tidak puasa. Menurut mantan sekretaris pribadi presiden Soeharto ini, pernyataan itu janggal.

"Janggal, konyol, mengada-ada, karena selama berabad-abad masyarakat Indonesia sudah sangat akrab dengan slogan budaya hormatilah yang puasa," katanya.

Untuk itu, siapa saja masyarakat Indonesia yang berprofesi sebagai pedagang kuliner mesti langsung menyesuaikan diri. Sementara, bagi mereka yang menyediakan makanan untuk musafir atau yang tidak berpuasa, tetap harus menutup tempatnya dengan tirai. "Supaya tidak mencolok untuk membedakan bulan Ramadhan dan bukan bulan Ramadhan," katanya.

‎Melihat kejadian ribut-ribut antara pedagang dan Satpol PP terkait penertiban dan membuat pedagang menerima banyak bantuan dana dari pejabat Indonesia, Anton mempertanyakan mengapa rezim sekarang begitu aneh, terkesan menjadi negara yang sekuler dan liberal.

Kata dia, negara yang mayoritas Muslim terbesar di Planet Bumi ini seakan dilecehkan dan dihinakan. Padahal, Muslim di Indonesia paling toleran di muka bumi. "Apakah karena paling toleran itu lalu dianggap lemah atau disamakan dengan tak berdaya?" tanyanya.

Terkait hal ini, Anton menyampaikan, ‎saking lemahnya sehingga anak cucu PKI pun meledek ingin hidup lagi di Indonesia. Anton mengajak semua Muslim mengevaluasi sikap toleransinya selama ini, apakah sudah kebablasan atau malah tidak tepat.

"‎Filosofi dasar negara Indonesia sangat tegas bahwa Indonesia adalah negara beragama, bukan negara sekuler apalagi liberal," katanya mengakhiri komentarnya.[Rpl]

Posting Komentar

loading...

Politik

[Politik][fbig1][#e74c3c]
Loading...

Nasional

[Nasional][fbig1][#e74c3c]

Ekonomi

[Ekonomi][fbig1][#e74c3c]

Kriminal

[Kriminal][fbig1][#e74c3c]

Hukum

[Hukum][fbig1][#e74c3c]

Internasional

[Internasional][fbig1][#e74c3c]
Diberdayakan oleh Blogger.